September 21, 2007

PerS BeBas! kaPan?

Tahukah anda! Maxim seorang berwarga kenegaraan Belanda dan seorang jurnalis pertama di kepulauan Hindia, mati karena menginformasikan kebejatan negaranya sendiri kepada rakyat hindia, padahal itu adalah fakta?. Tahukah anda Udin Bernas hilang, juga karena ingin menyampaikan fakta yang terjadi di Bantul.

Informasi faktual kadang seperti momok menakutkan bagi pihak-pihak yang berkuasa. Sebab, bisa jadi orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya memberontak karena tahu penguasa itu lalim. Hal inilah yang mengakibatkan pers seringkali dijadikan lahan perebutan, karena pemberitaan sangat efektif dalam kaitannya dengan opini publik. Hingga terdapatlah sebuah kode etik Pers dan Jurnalistik, yang langsung membedakan pers hitam dan pers putih.

Pers = Detektif
Pers dalam perjalanannya seringkali menemukan sintesa baru. Dimana informasi yang telah didapat dan dirangkum kadang kala mengarah pada sesuatu yang lebih besar dan menarik. Sampai berita dengan isu yang bersifat nasional harus dihentikan sebelum data mengarah pada data yang lebih besar atau mereka akan sibuk mencari kambing hitam yang bisa dijadikan diversi.
Mengutip kata-kata Pram “Kebenaran tidak turun dari langit, kebenaran harus diperjuangkan untuk menjadi benar”, dan pribahasa timur katakan kejujuran walau kejujuran itu sakit. Maka tak heran pers seringkali menyerempet bahaya yang kadang kala membahayakan nyawa dan karir.
Media masa yang merupakan konstruk kultural yang dihasilkan ideologi tentu saja menggunakan kerangka tertentu untuk memahami realitas sosial melalui para kuli tintanya. Akan tetapi, tentu saja kuli tinta tidak menggunakan cara-cara barbar dalam mengumpulkan informasi dan mengolahnya. Mereka bekerja di bawah kode etik yang termaktub pada UU No.40 tahun 1999. sehingga, ketika para kuli tinta berjalan di atas koridor yang berlaku seharusnya mereka juga mendapatkan perlindungan.

Kebebasan Pers vs Pengendalian media
Kejadian yang menimpa Metta Dharma Saputra wartawan majalah Tempo yang sedang menyelidiki dugaan kasus penyelewengan di Perusahan Garuda Mas milik Soekanto Tanoto melalui informannya Vincentius Amin Sutanto, mantan pegawai di perusahaan tersebut. Betul-betul membuat bising isu kebebasan pers yang mulai mendapat angin segar.
Seketika kejadian bising ini menarik perhatian kita untuk meninjau di manakah letak kebebasan sesungguhnya. Kebebasan bagi pers itu sendiri dan hak masyarakat untuk mendapatkan informasi.
Pada zaman orde baru mungkin kita pahami bahwa kebebasan pers dibelenggu melalui pengendalian media dengan monitoring birokrasi tingkat tinggi. orde ini mungkin melakukannya dengan penyadapan alat telekomunikasi pers dan informannya yang tentu saja melanggar batas privasi sebagaimana telah diatur dalam UU No.36 tahun 1999 dan PP No.52 tahun 2000. apakah kegiatan pers dianggap sebagai tindakan separatis yang ingin memecah belah kesatuan NKRI?
Dalam kaitannya dengan sistem kenegaraan tentu kita mengenal istilah extra-parlementer. Dimana sistem kontroling dilakukan diluar sistem itu sendiri dengan harapan sistem akan terus membaik dan melakukan perubahan yang signifikan. Eksekutor sesungguhnya adalah Rakyat Indonesia dan pers menjadi media penyampainya. Jika sistem menggangap usaha kontrol ini sebagai sebuah ancaman, dari sudut pandang mana? Atau ada sesuatu yang lebih besar lagi dibalik berita Metta sehingga ada pihak-pihak yang merasa terancam!

September 10, 2007

==BagiMu NegEri JiWa RagA kAmI==

terkait dengan pemberitaan tentang rela berkorbannya putra bangsa yang bekerja di luar negeri. dalam pemberitaan tersebut presiden SBY menghimbau agar putra-putra bangsa yang bekerja di luar negeri siap dipanggil kembali untuk membangun bangsa dengan membandingkannya pada mantan presiden kita BJ Habibie.
sebenarnya tidak ada keraguan, siapapun orangnya baik di dalam negeri maupun diluar negeri akan rela mengabdi pada negara jika diperlukan. pertanyaannya sekarang adalah untuk siapakah sebenarnya pengabdian kita? jika untuk negara dan bangsa mungkin ke ikhlasan tidak akan dipertanyakan lagi tapi jika untuk pemerintahan yang tidak mementingkan nasib rakyatnya, wajar nggak sihh jika kita ragu untuk mengabdi??

September 01, 2007

Tetap Tahan Jangan sampai kecolongan!

ketika isu ambalat terjadi tepat berbarengan dengan isu kenaikan harga BBM. kita lengah, dan perhatian kita terfokus pada ambalat, dan kali ini ketika isu konversi minyak tanah ke gas kita hampir terdiversi, tapi jangan! tetap tahan jangan sampai kita kecolongan.

Perang telah dimulai

peristiwa pemukulah yang dilakukan terhadap wasit nasional Donald Peter Luther Kolobita membuat geram berbagai elemen di Indonesia. peristiwa ini mengingatkan kita kembali pada pidato Ir Soekarno -ganyang malaysia- ketika malaysia menjadi boneka inggris. setelah ambalat perseteruan kini menderu lewat pemukulan kepada delegasi wasit karate untuk acara yang sampai saat ini kondisinya kian membaik.
banyak versi yang lalu lalang tentang cerita pemukulan ini hingga muncullah versi insiden versi malaysia. akan tetapi beras sudah jadi bubur, pasca kejadian ini dan menjelang perayaan hari kemerdekaan malaysia beberapa orang yang mendapatkan undangan akhirnya menolak untuk menghadiri perayaan hari kemerdekaan yang diadakan di hotel shangrilla jakarta. demo demo pun bertebaran di depan kedubes malaysia untuk Indonesia. Agung Laksono sebagai Ketua DPR RI pun mewajarkan bila hal itu terjadi, dan malaysia harus meminta maaf. malaysia harus berjiwa besar untuk meminta maaf. tidak sampai disitu saja di surabaya dan medan warga negara malaysia disweeping.
jika di dunia nyata perang sebatas dalam kata kata maka didunia maya sudah terjadi gencatan senjata beberapa situs malaysia di defacement (merubah tampilan). dan ketika sekarang malaysia sudah meminta maaf apakah gencatan senjata di dunia maya akan dihentikan?